Empat Tahun Lagi Perguruan Tinggi Diprediksi Gulung Tikar



Jadi, untuk bapak-bapak pimpinan perguruan tinggi, mindsetnya harus diubah  segera. Harus paham apa maunya generasi milenial.

Di Amerika, saat ini  ratusan universitas tutup. Karena tidak diminati kaum milenial.

Jangan terbuai dengan kebanggaan diri sebagai kampus favorit.

Tapi harus diubah menjadi kampus yang mampu menyajikan produk  sesuai permintaan pasar.

Satu contoh saja.

Sekarang ini ada kebutuhan SDM di bidang data analytic. Gajinya rata-rata 5000 ribu dolar. Pasarnya global. Tapi, di Indonesia belum ada Prodi itu.

Berikutnya, seperti yang sudah berulangkali saya tulis, metode pengajaran atau perkuliahan harus berubah juga.

Pimpinan yayasan dan pengurus sebagai ujung tombak kuasa kebijakan harus paham perubahan ini.

Sebuah riset tentang perubahan gaya hidup milenial menyimpulkan tiga hal:

1. Senang belajar mandiri sesuai kecepatan sendiri kapanpun dan di manapun.

2. Melek teknologi, lebih seneng liat video daripada membaca.
3. Senang meliat orang yang nice looking bila berbicara di layar gadget.

Nah, dari tiga kesimpulan riset itu, perlu dikaji serius lalu disesuaikan dengan strateginya. Buatlah road map yang jelas.

Hal penting dan mendesak yang menjadi agenda besar harus dikerjakan dalam kurun 2020 - 2024.

Jika tidak, pada tahun 2024, Anda akan tergagap. Seperti orang yang terbangun panik gara-gara  banjir setinggi dua meter yang menenggelamkan tempat tidur Anda.

Pada tahun 2024 ratusan kampus dan universitas di Indonesia akan bubar. Karena dikelola oleh orang-orang generasi X yang bebal dan kolot melihat perubahan gaya hidup generasi Z saat ini.

Itu kabar buruknya.
Namun, kabar buruk bisa Anda ubah menjadi kabar baik karena respon atas perubahan yang sigap.

Contoh kongkrit yang sudah berjalan baik adalah perkuliahan jarak jauh dengan teknologi streaming. Dengan metode ini, satu orang dosen bisa mengajar ribuan kelas sekaligus.

Tidak hanya metode pengajaran yang harus berubah. Tetapi juga sistem back office yang berhubungan dengan administrasi perkuliahan dan pemasaran.

Anak sekarang, demi malas berlama-lama baca teks, menuntut dipenuhinya kepentingan mereka. Maka, permudah keinginan mereka.

Mereka tidak lagi suka harus datang ke kampus Anda membawa map. Antri di loket. Membeli formulir. Hanya untuk sebuah urusan: daftar kuliah. (Oleh: Anab Afifi, CEO Bostonprice Asia)
Share this post :

Post a Comment

Pengunjung

Popular Post

 
Copyright © 2015. Nasional News - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger