Dongeng Mulai Ditinggalkan, Pengamat Budaya Unpak Angkat Bicara



BOGOR-Di era kekinian, dongeng tak lagi buming di kalangan anak. Untuk membunuh waktu luang, bahkan mereka cenderung lebih memilih mengisinya dengan bermain gadget. Menjadi ironi, dongeng yang seharusnya menjadi metode edukasi, digerus berbagai permainan dalam gadget yang kadang membuat anak lupa waktu. Pengamat Budaya dari Universitas Pakuan (Unpak), Agnes Setyowati angkat bicara menanggapi hal itu.

Dalam momentum peringatan Hari Dongeng internasional ini, Agnes menjelaskan bahwa hari dongeng intenasional berawal dari peringatan hari nasional mendongeng di Swedia yang dirayakan setiap tanggal 20 Maret. Masyarakat menyebutnya “Alla berattares dag” yang berarti all storytellers day.

“Kemudian, pada tahun 1997, pendongeng-pendongeng di Perth Australia Barat mengadakan perayaan bernama Celebration of Story yang juga diperingati pada tanggal dan bulan yang sama. Di masa yang sama, masyarakat Meksiko dan negara-negara di Amerika Selatan lainnya memperingati National Day of Storytellers pada tanggal dan bulan yang juga sama,” jelasnya

Akan tetapi, Hari dongeng nasional diperingati setiap tanggal 28 November, hal tersebut berawal pada tahun 2015 ketika para pendongeng di seluruh Indonesia menetapkan Hari Dongeng Nasional. Mereka memilih tanggal tersebut karena bertepatan dengan hari lahir bapak dongeng Indonesia, Drs. Suryadi atau lebih akrab disapa Pak Raden.

Menurutnya Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan itu peran dongeng sangat penting dalam banyak hal, terutama bagi anak-anak dan orang dewasa sekalipun. Secara pribadi ia sangat menyukai dongeng, khususnya dongeng-dongeng Indonesia.

“Sewaktu saya kecil ayah saya sering berdongeng untuk saya. Beberapa dongeng yang sangat saya sukai adalah dongeng tentang “Si Kancil Mencuri Timun”, “Rusa dan Kura-Kura”, dan “Kancil dan Buaya”. Kedua dongeng tersebut yang paling saya ingat sampai sekarang karena ceritanya sangat bagus dan mengandung pesan moral yang sangat bermanfaat,” tuturnya.

Di sisi lain, menurutnya dongeng merupakan media mengajarkan moralitas tanpa harus menggurui. Dengan mendengarkan dongeng anak-anak diajak untuk memaksimalkan daya imaji. Hal itu dianggap membantu dalam melatih kemampuan berbahasa, karena dengan mendongeng manusia akan terlatih untuk menyampaikan pesan secara terstuktur dan menarik.

Selain menghibur, dongeng tentunya menjadi media yang efektif untuk mengajarkan sejarah dan budaya, serta menyelipkan pesan moral dan prinsip yang mendidik khususnya kepada anak-anak.

“Merujuk pada hal ini, saya rasa banyak sekali manfaat serta hal-hal yang positif yang kita dapatkan dari dongeng. Oleh karena itu, saya berharap dengan adanya Hari Dongeng Internasional anak-anak Indonesia dapat lebih mencintai cerita-cerita dongeng Indonesia yang sarat dengan pesan-pesan yang baik serta mendidik,” kata Agnes.(fik)


Share this post :

Post a Comment

Pengunjung

Popular Post

 
Copyright © 2015. Nasional News - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger